Langsung ke konten utama

Hadis Tentang Murabahah

Nama : Siskha Indri S

NIM   : 63030180054


A. Pengertian Murabahah

Murabahah secara etimologi berasal dari kata keuntungan (ribhun). Sedangkan  secara terminologi, istilah murabahah didefinisikan sebagai prinsip jual beli dimana harga jualnya terdiri atas harga pokok barang ditambah  nilai keuntungan (ribhun) yang disepakati. 

Dalam menjual barang harus menunjukkan harga pokok sesuai dengan harga aslinya, kemudian menentukan seberapa besar keuntungan yang akan didapatkan. Untuk mengetahui seberapa besar harga pokok dan keuntungan dinyatakan dalam bentuk nominal atau presentase agar memudahkan dalam jual beli. Ketika melakukan jual beli hal yang harus diperhatikan adalah bersikap jujur dan tidak merugikan antar sesama. Semua itu bertujuan untuk menjaga kemaslakhatan umat agar menumbuhkan sikap tolong-menolong antar sesama.


B. Landasan Hadis dalam Murabahah :

…وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا

Artinya : “ Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.....”.

Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 29 :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ 

إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan  jalan yang bathil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka  diantara kamu....”

Landasan dalil tentang murabahah yang bersumber dari al-Qur’an sebagaimana yang telah dijelaskan di atas diperkuat dengan beberapa dalil yang bersumber dari  hadits  sebagai beriku:

Kitab Tuhfah Al-Fuqaha

وهو تمليك الصبيح بمثل الثمن الاول وزيادة ربح

Artinya :"Jual beli murabahah adalah kepemilikan objek jual beli dengan jual beli seraya memberikan pengganti sejumlah dengan harga awal dan tambahan keuntungan atau laba".

H.R. Ibnu Majah

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ثَلاَ ثٌ فِيْهِنَّ اَلْبَرَكَةُ: اَلْبَيْعُ إِلَىَ أَجَلٍ, وَالْمُقَرَضَةُ, وَخَلْطُ الْبُرِّ بِالشَّعِيْرِ لِلْبَيْتِ لاَ لِلْبَيْعِ 

(رواه ابن ماجه عن صهيب)

Dari SuabAr-Rumi r.a., bahwa Rasulullah bersabada ; “Tiga perkara yang didalamnya terdapat keberkatan: (1) menjual dengan pembayaran tangguh (Murâbahah), (2)muqaradhah (nama lain dari mudharabah), (3) mencampurkan tepung dengan gandum untuk kepentingan rumah bukan untuk diperjual belikan.” (Hr. Ibnu Majah)

C. Konsep Murabahah:

1. Ditinjau dari segi maknanya, murobahah adalah bentuk masdar dari kata “rajaba” yang ditambahkan dengan huruf alif untuk menunjukkan isytirak / musyarakah yang mengandung arti memberikan sebu-ah kelebihan. 

2. Dari pengertian diatas dapat dijelaskan bahwa murabahab adalah salah satu akad jual beli (pembiaya-an) dengan tambahan nilai yang diberikan oleh pembeli kepada penjual, sebagi laba untuk penjual se-suai dengan kespakatan

3. Murabahah merupakan salah satu jual beli Al Amanah, dikarenakan jual beli ini terjadi berdasarkan kepercayaan kepada penjual yang menjelasakan tentang harga beli terhadap barng tersebut.


D. Rukun Murabahah:

1. Penjual (al-bai) dianalogkan sebagai bank

2. Pembeli (al musytari) dianalogkan sebagai nasabah

3. Barang yang akan diperjual belikan (al mabi’), yaitu barang pembiayaan.

4. Harga (al saman) dianalogkan sebagai pricing atau plafond pembiayaan 

5. Ijab dan qabul digunakan sebagai akad untuk perjanjian, yaitu pernyataan persetujuan yang dituangkan dalam akad perjanjian.


E. Syarat Murabahah:

1. Informasi mengenai harga awal . penjual dan pembeli menyepakati harga beli barang yang akan ditransaksikan  harga tersebut harus menggunakan unit hitung yang jels. Apabila terdapat diskon pada pembelian pertama oleh penjual, maka diskon tersebut milik pembeli akhir. 

2. Informasi keuntungan harus jelas dan menggunakan unit barang yang jelas.

3. Tidak boleh mengandung riba.

4. Akad membelian pertama harus sah.


F. Teknis Pelaksanaan Skema Murabahah:

1. Anggota harus sudah baligh atau cakap hukum dan mempunyai kemampuan untuk membayar

2. Harga jual ditentukan pada awal perjanjian dan tidak boleh berubah selama jangka wak-tu pembayaran ansuran, termasuk jika dilakukan perpanjangan waktu.

3. Bank dapat meminta uang muka jika diperlukan, uang muka merupakan penguranagan dari kewajiban anggota kepada bank. Besarnya relatif karena berdasarkan kesepakatan.

4. Jangka waktu diupayakan tidak melebihi satu tahun, jika lebih harus dikeluarkan SK dari pengurus.

5. Jika anggota janji dalam pembayaran angsurannya, bank berhak mengenakan denda, kecuali adanya musibah.

6. Jika anggota melunasi kewajibannya sebelum jatuh tempo, ia akan diberikan muqqosah yaitu potongan margin berdasarkan kebijakan manajemen bank.

7. Bank diperbolehkan untuk meminta jaminan kepada anggotabatas piutang murabahah.

8. Dokumen yang dibuthkan 


G. Pentapan Harga dalam Pembiayaan Murabahah  Di Bank

Dalam pelaksanaan murabahah di Bank, harga dan jumlah yang harus dibayar  nasabah sudah ditentukan oleh pihak Bank sebelum perundingan harga dilakukan, sedangkan seharusnya dibuat berdasarkan kesepakatan bersama, bukan dibuat dahulu oleh pihak Bank walaupun nantinya disepakati oleh nasabah, ini memungkinkan adanya indikasi iqrah (paksaan) yang dibuat oleh pihak Bank. 

Pelaksanaan penetapan harga inipun tidak sesuai dengan pengertian murabahah dalam Undang-Undang yang diakhiri dengan klausal “ pembeli membayarnya dengan harganya  lebih sebagai harga yang disepakati”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rahn

Nama : Siskha Indri Saputri Nim.   : 63030180054 1. Pengertian Rahn Rahn dalam bahasa indonesia biasanya disebut gadai. Sedangkan dalam syari’ah rahn adalah memegang sesuatu yang mempunyai nilai. Rahn adalah suatu sistem dalam mu’amalah dimana pihak yang satu memberikan pinjaman dan pihak yang kedua menyimpan barang berharga atau bernilai sebagai jaminan atas pinjaman terhadap orang yang menerima gadai. 2. Dalil tentang rahn a. Al-Qur’an QS Al-Baqarah ayat 283 وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ ۗ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ Artinya :“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu´amalah tidak secara tunai)  sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika seb...

HADIST, KHABAR, SUNNAH, ATSAR

Nama : Siskha Indri Saputri NIM.   : 63030180054 Prodi  : Akuntansi Syariah Hadist menurut bahasa adalah sesuatu yang baru atau berita. Sedangkan hadist menurut istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan pada nabi Saw, baik ucapan, perbuatan, ketetapan, sifat diri, atau sifat pribadinya. Setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan tentang hadist maupun Al-Qur’an. Khabar secara bahasa adalah kabar, perintah, informasi, sesuatu yang disampaikan seseorang kepada orang lain. Sedangkan secara istilah Khabar adalah sama dengan hadist menurut jumhur ulama, namun ada juga yang membedakan Khabar dengan hadist beda yaitu hadist dari nabi Khabar bisa untuk nabi atau untuk yang lain. Sunnah dalam hadits berbeda dengan Sunnah fiqih. Menurut bahasa Sunnah dalam hadist adalah pola yang telah mentradisi baik atau jelek. Contohnya : tradisi TPQ, nabi makan menggunakan 3 jari. Tradisi yang baik akan mendapatkan amalan yang baik bagi orang yang mengajarkan apabila  ...